Seraya ku berdoa

اللهمَّ صلِّ على سيِّدنا محمَّد وعلى آلِه وصحبِه وسلِّم

Wahai Sang Maha Cinta Sang Maha Abadi Sang Pemilik Segala nya
bersimpuh ku melihat bencana dan musibah yg Kau hendaki
Adakah ini semua sebab dosa yg telah kami perbuat…

Wahai Dzat Pemilik Alam
jadikan semua pemberian Mu sebagai Anugerah sebesar – besar nya anugerah yg Kau turunkan
tiada daya upaya melainkan semua atas bantuan Mu …

Kami yg tersadar                   

           sejengkal demi sejengkal menjauh kami padaMu…

           sedetik demi sedetik kami lupa akan Mu…

           dosa demi dosa kami lakukan dengan sadar..

           hukumlah kami dengan seberat-berat hukuman Mu…

          

           HUKUMLAH KAMI DISINI DENGAN SEBERAT-BERAT HUKUMAN MU…

          YA ALLAH..

tapi satu yang kami pinta dariMu…matikan kami matikan kami MATIKAN KAMI dalam keaadan  khusnul khotimah…

 Image

            Ya ALLAH biha Ya ALLAH biha Ya ALLAH bi khusnil khotimah…

 

Saya pengagum Almaghfurlah Alhabib Munzir bin fuad almusawa

Assalamualaikum wr.wb

Dalam postingan kali ini saya ingin memberitahukan kepada teman teman semua kalau blog ini yaitu majeliskecil.wordpress.com adalah blog saya sendiri bukan blog pribadinya Almarhum Habib Munzir almusawa.

Saya adalah salah satu jamaah dr Majelis Rasulullah SAW yg di pimpin oleh beliau Almaghfurlah Alhabib Munzir bin fuad almusawa.

Saya pengagum beliau.cinta dan rindu kepada beliau yg kini telah mendahului kita untuk berjumpa dengan NYA.beliau yg mengenalkan saya lebih dekat kepada sifat2 kelembutan dan kasih sayang Nabi SAW.

Ya Rabb.. Engkau lebih mencintainya yg selalu merindui perjumpaan dengan Mu..
Tempatkanlah beliau di tempat Mu yg mulia bersama-sama kekasihnya yaitu Baginda Nabi SAW. amiin ya robbal ‘alamiin

Wassalam.

Sudah lama tidak ibadah

[TANYA] Saya telah lama meninggalkan ibadah baik wajib maupun sunnah. Apakah saya perlu mursyid (guru) untuk kembali ?

[JAWAB] Setelah lama meninggalkan ibadah sunnah maupun wajib, apakah masih ada sebersit kerinduan untuk mengabdi dan tunduk pada Allah ta’ala ? Apa ada sedikit rasa ingin ketika melihat orang melakukan shalat dengan khusyuk ? Rindu ingin bisa begitu juga ?

Kalau ya: artinya masih ada. Biar setitik pun, ada.

Allah sendiri yang menjaga setitik cahaya kerinduan itu di hati mu. Jagalah cahaya itu. Syukuri dengan menyikapinya. Kembalilah mengerjakan apa yang Dia perintahkan untuk kita jalankan, sebelum Dia mengambil kembali cahaya-Nya itu. Jadikan kerinduan itu bahan baku kita untuk ibadah. Karena pada dasarnya, ibadah tidak bisa dipaksa.

Ketika Dia berkehendak untuk menarik kita mendekat kepada-Nya, ada dua cara: kita mendekat dengan sukarela, atau kita terpaksa ‘diseret’-Nya ke dalam ampunan serta rahmat-Nya dengan rantai ujian dan cambuk kesulitan, kebingungan atau penderitaan, yang pasti—tidak bisa tidak—akan membuahkan sebuah permohonan tolong dan ampun dengan jujur, dari dasar hati kita yang terdalam.

Ada banyak cara untuk kembali kepada-Nya. Tapi suka atau tidak, kita dijadikan-Nya sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW adalah pemegang kunci pintu menuju-Nya di periode ini, maka suka atau tidak, cara kembalinya kita harus ada dalam ruang lingkup ajaran Beliau SAW. Percayalah, cepat atau lambat kita akan melalui jalan Beliau SAW, meski bisa jadi, saat ini masih enggan.

Berdoalah, mohonlah sepenuh hati, untuk dibuat-Nya memahami, walaupun sekarang masih belum melakukan ibadah. Dia mendengar permohonan semua orang, bukan hanya mendengar orang yang beribadah saja. Namun hanya permohonan sepenuh hati lah yang diutamakan-Nya. Ia sungguh-sungguh mendengar mereka yang butuh kepada-Nya dengan jujur, bukan hanya di mulut saja.

Seorang mursyid yang benar hanya merupakan perpanjangan tangan Rasulullah SAW. Bertemu mursyid pun, pada dasarnya yang ia lakukan hanya mengembalikan kita ke jalan Nabi Muhammad SAW, tapi dengan penyesuaian-penyesuaian yang spesifik untuk diri anda pribadi.

Apa tujuan semua ibadah itu? Untuk apa? Pada dasarnya, untuk membersihkan hati, menundukkan sifat-sifat jasadi, dan membuka pintu ‘keterhubungan’ dengan Allah ta’ala.

Mungkin sekarang belum terasa, dan kata-kata ini belum terasa benarnya. Tapi setidaknya cobalah belajar membedakan masa-masa sebelum kita melakukan ibadah, dan ketika melakukannya—dengan (disertai penghadapan) hati—.

Kalau sudah terasa ‘enaknya’ dan manfaatnya, barulah kita enggan untuk tidak ibadah. Tapi, kalau dalam melakukannya tidak dengan—hati yang menghadap pada Allah—, ibadah atau tidak, sama saja. Tak ada bedanya.